Senin, 13 Agustus 2012

ASUHAN KEPERAWATAN Halusinasi


Halusinasi

LATAR BELAKANG

Halusinasi  merupakan gangguan orintasi realita, karena terganggunya fungsi otak : kognitif dan proses pikir, fungsi persepsi, fungsi emosi, fungsi motorik dan fungsi sosial.
Gangguan terhadap fungsi kognitif  dan persepsi akan mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu, sedangkan gangguan fungsi emosi, motorik dan sosial akan mengakibatkan terganggunya kemampuan berespon yakni  perilaku non verbal (ekspresi, gerakan tubuh) dan perilaku verbal (penampilan hubungan sosial). Memperhatikan perilaku  klien seperti ini tentu akan menjadi suatu hal yang perlu  direspon oleh perawat profesional, paling tidak mengeliminir masalah-masalah yang ada sehingga keadaan seorang pasien tidak berkembang menjadi lebih berat (perilaku agresif / perilaku kekerasan).

A.    TUJUAN PENULISAN

1.      Tujuan Umum
Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan halusinasi pendengaran, diharapkan akan mampu mengidentifikasikan seluruh masalah  yang terjadi sehubungan dengan halusinasi.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mampu mengkaji klien dengan masalah utama halusinasi
b.      Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan klien dengan masalah utama halusinasi
c.       Mahasiswa mampu merencanakan tindakan keperawatan klien dengan masalah utama halusinasi
d.      Mahasiswa mampu mengimplementasikan renaca tindakan keperawatan klien dengan masalah utama halusinasi
e.       Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan keperawatan klien dengan masalah  utama halusinasi.

B.     METODE PENULISAN

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu :
a.       Metode Kepustakaan
Metode penulisan dengan menggunakan beberapa literatur sebagai sumber
b.      Metode Wawancara
Data diperoleh dengan wawancara langsung kepada klien dan perawat ruangan.
c.       Metode Observasi
Dengan mengobservasi langsung kepada klien dengan masalah utama halusinasi pendengaran

C.    SISTEMATIKA PENULISAN

a.       Bab I merupakan pendahuluan yang berisi tenang latar belakang, tujuan penulisan, metode  penulisan dan sistematika penulisan.
b.      Bab II tentang landasan teori yang memuat pengertian, tentang respon, jenis-jenis halusinasi, fase-fase halusinasi, pengkajian, diagnosa, tujuan, implemenasi dan evaluasi keperawatan.
c.       Bab III berisi tentang tinjauan kasus halusinasi pendengaran
d.      Bab IV membahas kesenjangan antara teori dan kasus
e.       Bab V berupa penutup yang memuat kesimpulan dan saran.

BAB II
LANDASAN TEORI
A.    PENGERTIAN
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa, Halusinasi sering diidentikkan dengan Schizofrenia. Dari seluruh klien Schizofrenia 70 % diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang juga disertai dengan gejala halusinasi adalah gangguan maniak depresiasi dan delerium.
Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempresepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan  panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui  panca indra tanpa stimulus eksteren : Persepsi palsu. Berbeda dengan ilusi dimana klien mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah persepsi pada halusinasi terjadi  tanpa adanya stimulus eksternal yang terjadi. Stimulus internal dipersepsikan sebagai sesuatu yang nyata ada oleh klien.
B.     ­RENTANG RESPON HALUSINASI
Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiology. Ini merupakan respon persepsi paling maladaptif. Jika klien sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indra (pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan dan perabaan), klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu  stimulus panca indra walaupun sebenarnya stimulus itu tidak ada.diantara  kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena sesuatu hal mengalami kelainan persepsi yaitu salah  mempersepsikan stimulus yang diterimanya yang disebut sebagai ilusi. Klien mengalami ilusi jika interprestasi yang dilakukannya terhadap stimulus panca indra tidak akurat sesuai stimulus yang  diterima.
Rentang respon :












Respon Adaptif

Þ       Pikiran logis
Þ       Persepsi akurat
Þ       Emosi konsisten dengan pengalaman
Þ       Perilaku sesuai
Þ       Berhubungan sosial

 


Þ       Distorsi pikiran
Þ       Ilusi
Þ       Reaksi emosi Berlebihan atau kurang
Þ       Perilaku aneh/tidak biasa Menarik diri

 

Respon maladaptif

Þ       Gangguan pikiran
Þ       Halusinasi
Þ       Sulit berespon emosi
Þ       Perilaku disorganisasi
Þ       Isolasi sosial

 
 












C.    JENIS-JENIS HALUSINASI

Jenis Halusinasi

Karakteristik

Pendengaran
70 %
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
Penglihatan
20 %
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.


Penghidu
Membaui bau-bauan  tertentu seperti bau darahm urin dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi  penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang atau dimensia.
Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin  atau feses
Perabaan
Mengalami nyeri atau  ketidaknyamanan tanpa stimulus yang  jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda  mati atau orang lain.
Cenesthetic
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri pencernaan makan atau pembentukan urine
Kinisthetic
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak

D.    FASE HALUSINASI

Halusinasi yang dialami oleh klien biasanya berbeda intensitas dan keparahannya. Fase halusinasi terbagi empat :
1.      Fase Pertama
Pada fase ini klien  mengalami kecemasan, stress, perasaan  gelisah, kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini menolong untuk sementara.
Klien  masih mampu mengontrol kesadarannya dan mengenal pikirannya, namun intensitas persepsi meningkat.
2.      Fase Kedua
Kecemasan meningkat berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal, klien berada pada tingkat “listening” pada halusinasi.
Pemikiran internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan klien merasa tak mampu mengontrolnya.
Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan  seolah-olah halusinasi datang dari orang lain.
3.      Fase Ketiga
Halusinasi; lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman sementara.
4.      Fase Keempat
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan haslusinya klien berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.

E.     PENGKAJIAN KLIEN DENGAN HALUSINASI

Halusinasi merupakan salah satu gejala yang  ditampakkan oleh klien yang mengalami psikotik, khususnya schizofrenia. Pengkajian klien dengan halusinasi  demikian  merupakan  proses identifikasi yang melekat erat dengan pengkajian respon neurobiologi lainnya seperti yang terdapat juga pada schizofrenia.
1.      Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi  yang berkontribusi pada munculnya  respon neurobiologi seperti halusinasi antara lain :
a.      Faktor Genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu.  Namun  demikian kromoson yang ke berapa yang menjadi factor penentu  gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen schizofrenia adalah kromosin nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan No. 4, 8,5 dan 22 (Buchanan dan Carpenter, 2002). Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami  schizofrenia sebesar 50 %  jika salah satunya mengalami schizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 % jika salah satunya mengalami schizofrenia,  sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 % seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami schizofrenia berpeluang 15 % mengalami schizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya schizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.
b.      Faktor Neurobiologi
Ditemukan bahwa korteks pre frontal dan korteks limbiks pada klien schizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien schizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal.
Neutransmitter dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.
c.       Studi Neurotransmitter
Schizofrenia diduga juga disebabkan oleh ketidak seimbangan neurotransmitter dimana dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.
d.      Teori Virus
Paparan virus influenza pada trimester ke 3 kehamilan dapat menjadi factor predisposisi schizofrenia.
e.       Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi factor predisposisi schizofrenia antara lain anak yang dipelihara oleh ibu yang suka cemas, terlalu melindungi, dingin dan tak berperasaan, sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.

2.      Faktor Presipitasi
Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a.       Berlebihannya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
b.      Mekanisme penghataran listrik disyaraf terganggu (mekanisme gatering abnormal)
c.       Gejala-gejala pemicu kondisi kesehatan lingkungan, sikap dan  perilaku seperti yang tercantum pada tabel di bawah ini :
Kesehatan
Nutrisi kurang
Kurang tidur
Ketidakseimbangan irama sirkardian
Kelelahan infeksi
Obat-obatan sistem syaraf pusat
Kurangnya latihan
Hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan
Lingkungan
Lingkungan yang memusuhi, kritis
Masalah di rumah tangga
Kehilangan  kebebasan hidup, pola aktivitas sehari-hari
Kesukaran dalam berhubungan dengan  orang lain
Isolaso sosial
Kurangnya dukungan sosial
Tekanan kerja (kurang  keterampilan dalam bekerja)
Stigmasasi
Kemiskinan
Kurangnya alat transportasi
Ketidakmampuan mendapat pekerjaan


Sikap/Perilaku
Merasa tidak mampu (harga diri rendah)
Putus asa (tidak percaya diri)
Merasa gagal (kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri
Kehilangan kendali diri (demoralisasi)
Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut
Merasa malang  (tidak mampu memenuhi  kebutuhan spiritual)
Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan
Rendahnya  kemampuan sosialisasi
Perilaku agresif
Perilaku kekerasan
Ketidakadekuatan pengobatan
Ketidakadekuatan  penanganan gejala

3.      Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi adalah :
Ø  Register, menjadi malas beraktiftas sehari-hari
Ø  Proyeksi, mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda
Ø  Menarik diri, sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
Ø  Keluarga mengingkari masalah yang dialami klien.

4.      Perilaku
Halusinasi benar-benar riil dirasakan oleh klien yang mengalaminya, seperti mimpi saat tidur. Klien mungkin tidak punya cara untuk menentukan persepsi tersebut nyata. Sama halnya seperti seseorang mendengarkan  suara-suara dan tidak lagi meragukan orang yang berbicara tentang suara tersebut. Ketidakmampuannya mempersepsikan stimulus secara riil dapat menyulitkan kehidupan klien. Karenanya halusinasi  harus menjadi prioritas untuk segera diatasi. Untuk memfasilitasinya klien perlu dibuat nyaman untuk menceritakan perihal halusinasinya.
Klien yang mengalami halusinasi sering kecewa karena mendapatkan respon negatif ketika mencoba menceritakan halusinasinya kepada orang  lain. Karenanya banyak klien  enggan untuk menceritakan  pengalaman – pengalaman aneh halusinasinya. Pengalaman halusinasi menjadi masalah untuk dibicarakan dengan orang lain.  Kemampuan untuk memperbincangkan  tentang halusinasi yang dialami oleh klien sangat penting untuk memastikan dan memvalidasi pengalaman halusinasi  yang dialami oleh klien sangat penting untuk memastikan dan memvalidasi pengalaman tersebut. Pesawat harus memiliki ketulusan dan perhatian  untuk dapat memfasilitasi percakapan tentang halusinasi.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda-tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar  mengetahui jenis halusinasi saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi :
Ø  Isi Halusinasi
Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara  siapa yang didengar, apa yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium jika  halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecapan, dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan.
Ø  Waktu dan Frekuensi
Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi.
Ø  Situasi Pencetus halusinasi
Perawat perlu mengidentifikasi  situasi  yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.
Ø  Respon Klien
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak berdaya terhadap halusinasinya.

F.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sendiri biasa membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai pada fase IV, dimana klien mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya. Klien benar-benar kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. Dalam situasi ini klien dapat melakukan bunuh diri (sucide) membunuh orang  lain (nomocide) dan merusak lingkungan.
Selain masalah  yang diakibatkan oleh halusinasi, klien biasanya juga mengalami masalah-masalah keperawatan yang menjadi penyebab  munculnya halusinasi. Masalah ini antara lain harga diri rendah dan isolasi sosial (stuart dan laria, 2001). Akibat harga diri rendah dan kurangnya keterampilan berhubungan sosial, klien menjadi menarik diri dari lingkungan. Dampak selanjutnya lebih dominan dibandingkan stimulus  eksternal. Klien selanjutnya  kehilangan kemampuan membedakan stimulus internal dengan stimulus ekternal. Ini memicu timbulnya halusinasi.
Dari masalah tersebut diatas dapat disusun pohon masalah sebagai berikut:


Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
 
 
EFEK            

 

C.P     


 


ETIOLOGI


 




Dari pohon masalah di atas dapat dirumuskan  diagnosa keperawatan sebagai berikut :
1.      Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi audiotorik
2.      Perubahan persepsi sensorik : Audiotorik berhubungan dengan menarik diri
3.      Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
4.      Difisit perawatan diri : mandi / kebersihan, berpakaian / berhias berhubungan dengan intoleransi aktivitas

G.    TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN

Tujuan Umum
F Klien dapat mengenal dan mengontrol halusinasi
Tujuan  itu dapat dirinci sebagai berikut :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
2.      Klien dapat mengenal halusinasinya
3.      Klien dapat mengontrol halusinasinya
4.      Klien  mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya
5.      Klien dapat memanfaatkan obat untuk mengatasi halusinasinya

H.    TINDAKAN KEPERAWATAN

F Tindakan  keperawatan untuk membantu klien mengatasi masalahnya dimulai dengan  membina saling percaya dengan klien
F Setelah hubungan saling percaya  terbina, intervensi keperawatan selanjutnya adalah  membantu klien  mengenali halusinasinya
F Setelah klien mengenal halusinasinya selanjutnya klien dilatih bagaimana cara yang biasa terbukti mengatasi atau mengontrol halusinasinya.
Adapun cara yang efektif dalam memutuskan halusinasi adalah :
1.      Menghardik halusinasi
2.      Berinteraksi dengan orang lain
3.      Beraktivitas secara teratur dengan menyusun kegiatan harian
4.      Memanfaatkan obat dengan baik
Keluarga  perlu diberi penjelasan tentang bagaimana penanganan  klien yang mengalami halusinasi sesuai dengan kemampuan keluarga. Hal ini penting karena keluarga adalah sebuah sistem dimana klien  berasal dan halusinasi sebagai salah satu gejala psikosis dapat berlangsung lama (kronis) sehingga keluarga perlu mengetahui cara  perawatan klien halusinasi di rumah.
Dalam mengendalikan halusinasi diberikan psikoformaks oleh tim medis sehingga perawatan juga  perlu memfasilitasi klien untuk dapat menggunakan obat secara tepat. Prinsip lima benar harus menjadi focus utama dalam pemberian obat

I.       EVALUASI

Asuhan  keperawatan klien dengan halusinasi  berhasil jika :
1.      Klien menunjukkan kemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi
2.      Mampu melaksanakan program pengobatan berkelanjutan
3.      Keluarga mampu menjadi sebuah sistem pendukung yang efektif dalam membantu  klien mengatasi  masalahnya.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar