Jumat, 24 Agustus 2012

ASUHAN KEPERAWATAN Post Natal Care


Laporan Pendahuluan
Post Natal Care
1.      Pengertian
Masa puerperium atau masa nifas (post partum) adalah jangka waktu 6 minggu yang dimulai setelah kelahiran bayi sampai pemulihan kembali organ-organ reproduksi seperti sebelum kehamilan (Bobak, MI 2000)
Masa puerperium atau masa nifas (post partum) adalah jangka waktu 6 minggu yang dimulai setelah kelahiran bayi sampai pemulihan kembali organ-organ reproduksi seperti sebelum kehamilan (Bobak, MI 2000). Masa nifas ini dapat dibagi menjadi tiga tahap yakni :
a.       Immidiate post partum
Masa setelah post partum sampai 24 jam setelah melahirkan (24 jam).
b.      Early post partum
Masa setelah hari pertama  sampai dengan minggu pertama post partum
c.       Late post partum
Masa minggu pertama post partum sampai dengan minggu keempat post partum.

2.      Perubahan fisiologi post partum
a.       Tanda-tanda vital
1)      Suhu
Selama 24 jam pertama, mungkin meningkat 38 0 C sebagai suatu akibat dari dehidrasi persalinan 24 jam wanita tidak boleh demam.

2)      Nadi
Bradikardi umumnya ditemukan pada 6 – 8 jam pertama setelah persalinan. Brandikardi merupakan suatu konsekuensi peningkatan cardiac out put dan stroke volume. Nadi kembali seperti keadaan cardia output dan stroke volume. Nadi kembali seperti keadaan sebelum hamil 3 bulan setelah persalinan. Nadi antara 50 sampai 70 x/m dianggap normal.
3)      Respirasi
Respirasi akan menurun sampai pada keadaan normal seperti sebelum hamil.
4)      Tekanan darah
Tekanan darah sedikit berubah atau tidak berubah sama sekali. Hipotensi yang diindikasikan dengan perasaan pusing atau pening setelah berdiri dapat berkembang dalam 48 jam pertama sebagai suatu akibat gangguan pada daerah persarafan yang mungkin terjadi setelah persalinan.
b.      Adaptasi sistim cardiovaskuler
Pada dasarnya tekanan darah itu stabil tapi biasanya terjadi penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg jika ada perubahan dari posisi tidur ke posisi duduk. Hal ini disebut hipotensi orthostatik yang merupakan kompensasi cardiovaskuler terhadap penurunan resitensi  didaerah panggul. Segera setelah persalinan ibu kadang menggigil disebabkan oleh instabilitas vasmotor secara klinis, hal ini tidak berarti jika tidak disertai demam.
c.       Adaptasi kandung kemih
Selama proses persalinan kandung kemih mengalami trauma akibat tekanan oedema dan menurunnya sensifitas terhadap tekanan cairan, perubahan ini menyebabkan tekanan yang berlebihan dan pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas, biasanya ibu mengalami kesulitan BAK sampai 2 hari pertama post partum.
d.      Adaptasi sistem endokrim
Sustem endokrim mulai mengalami perubahan kala Iv persalinan mengikuti lahirnya placenta, terjadi penurunan yang cepat dari estrogen progesteron dan proaktin. Ibu yang tidak menyusui akan meningkat secara bertahap dimana produksi ASI mulai disekitar hari ketiga post partum. Adanya pembesaran payudara terjadi karena peningkatan sistem vaskulan dan linfatik yang mengelilingi payudara menjadi besar, kenyal, kencang dan nyeri bila disentuh.
e.       Adaptasi sistem gastrointestinal
Pengembangan fungsi defekasi secara normal terjadi lambat dalam minggu pertama post partum. Hal ini berhubungan dengan penurunan motilitas usus, kehilangan cairan dan ketidaknyamanan parineal.
f.       Adaptasi sistem muskuloskletal
Otot abdomen terus menerus terganggu selama kehamilan yang mengakibatkan berkurangnya tonus otot yang tampak pada masa post partum dinding perut terasa lembek, lemah, dan kotor. Selama kehamilan otot abdomen terpisah yang disebut distasi recti abdominalis, juga terjadi pemisahan, maka uteri dan kandung kemih mudah dipalpasi melalui dinding bila ibu terlentang.
g.      Adaptasi sistem integumen
Cloasma gravidrum biasanya tidak akan terlihat pada akhir kehamilan, hyperpigmenntasi pada areola mammae dan linea nigra, mungkin belum menghilang sempurna setelah melahirkan.
h.      Adaptasi Reproduksi
1)      Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusio) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

Involusio

Tinggi Fundus Uterus


Berat Uterus

Bayi lahir
Plasenta lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2 jari bawah pusat
Pertengahan pusat simfisis
Tidak teraba diatas simfisis
Bertambah kecil
Sebesar normal
100 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
Involusi terjadi disebabkan oleh :
a)      Kontraksi retraksi serabut otot yang terjadi terus-menerus sehingga mengakibatkan kompresi pembuluh darah dan anemia setempat (iskemia).
b)      Otolisis yang disebabkan sitoplasma sel yang berlebihan akan tercernah sendiri sehingga tertinggal  jaringan fibro-elastik dalam jumlah renik sebagai bukti kehamilan.
c)      Atrofi merupakan jaringan yang berproliferasi dengan adanya estrogen dalam jumlah besar, kemudian mengalami atrofit sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta.
Selain perubahan atrofik pada otot-otot uterus, lapisannya (desidua) mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan bergenerasi menjadi endometrium yang baru. Luka bekas pelekatan plasenta memerlukan waktu 8 minggu untuk sembuh total.
2)      Lokia
Lokia adalah istilah yang diberikan pada pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus selama masa nifas. Jumlah dan warnah lokia akan berkurang secara progresif. Lokia dapat dibagi atas :
a)      Lokia rebra (hari 1 – 4) jumlahnya sedang, berwarnah merah terutama darah.
b)      Lokia serosa ( hari 4 – 8) jumlahnya berkurang dan berwarnah merah mudah (hemoserosal)
c)      Lokia alba (hari 8 – 14) jumlahnya sedikit, berwarnah putih atau hampir tidak berwarna.

3)        Serviks
Serveksi mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium ekstern dapat dimasuki oleh dua hingga tiga tangan : setelah 6 minggu postnatal, serviks menutup.
Karena robekan kecil-kecil yang terjadi selama dilatasi. Serviks tidak pernah kembali kekeadaan sebelum hamil (nulipara) yang berupa lubang kecil seperti mata jarum ; serviks hanya kembali pada keadaan tidak hamil yang berupa lubang yang sudah sembuh, tertutup  tapi berbentuk celah. Dengan demikian, os servisis wanita yang sudah pernah melahirkan merupakan salah satu tanda yang menunjukkan riwayat kelahiran lewat vagina.
4)       Vulva dan vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta perenggangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah tiga minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaab tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol.
5)       Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya tegang oleh tekanan kepada bayi yang bergerak maju. Pada postnatal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan kembali bagian besar tonusnya sekaligus tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum melahirkan (nulipara).
6)        Payudara
payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi. Payudara akan menjadi lebih besar lebih kencang dan mula-mula lebih nyeri tekan status hormonal serta dimulainya laktasia.
7)        Traktus urinarius
Buang air kecil sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan terdapat spasme sfigner dan edema leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan.

3.      ADAPTASI PSIKOSOSIAL PADA POST PARTUM
Fase-fase transisi :
o   Fase antisipasi kehamilan :
      Fase antisipasi orang tua, membuat keputusan dan harapan, membagi pekerjaan dalam keluarga.
o   Fase bulan madu (periode post partum)
      Kontak lebih lama dan intim, menggali keadaan anggota keluarga    yang baru.
Menurut Rubin, fase adaptsi ibu meliputi :
1.      Taking In
-          Dependet
-          Pasif
-          Fokus pada diri sendiri
-          Perlu tidur dan makan
2.      Taking Hold
-          Dependent
-          Independent
-          Fokus melibatkan bayi
-          Melakukan perawatan diri sendiri
-          Waktu yang baik untuk penyuluhan
-          Dapat menerima tanggungjawab
3.      Letting Go
-          independence pada peran yang baru
-          letting go terjadi pada hari-hari terakhir pad minggu pertama            persalinan.
            Adaptasi psikologis ayah :
1.      Respon ayah :
-          Bangga dan takut memegang bayi.
-          Diekspresikan secara berbeda-beda, dekat dengan keluarga, mengadakan pesta dengan teman-teman.
-          Pada waktu immediately ; kelihatan lelah dan mengantuk.
-          Bila ada komplikasi bayi, maka ayah akan mencari informasi untuk ibu dalam merawat bayinya.
2.      Psikologis ayah :
Tergantung keterlibatan selama proses kelahiran berlangsung. Biasanya ayah merasa lelah dan ingin selalu dekat dengan istri dan anaknya. Bila ada masalah dengan bayinya dan harus dirawat terpisah dengan ibunya, maka ayah merupakan sumber informasi bagi ibu mengenai anaknya. Dalam hal ini ayah sering merasa khawatir tentang keadaan istri dan anaknya.
Ayah juga dapat mengalami post partum blue karena masalah keuangan keluarga, merasa tidak yakin akan kemampuannya sebagai orang tua dan kesulitan beradaptasi terhadap perubahan hubungan dengan istrinya.
3.      Psikologi keluarga :
Kehadiran bayi yang baru lahir di dalam keluarga menimbulkan adanya perubahan-perubahan paeran dan hubungan di dalam keluarga tersebut. Umpamanya anak yang lebih besar sekarang menjadi kakak, orang tua menjadi kakek, suami-istri harus saling membagi perhatian karena tuntutan dan ketergantungan bayi dalam memenuhi kebutuhannya. Bila banyak anggota keluarga yang dapat membantu dalam merawat bay, mungkin keadaannya tidal sesulit bila tidak ada yang membantu.
Mengingat kompleksnya tugas-tugas ibu pada masa sesudah melahirkan, dimana ibu harus merawat dirinya, merawat bayinya dan melakukan tugas rumah tangga, maka perawat bidan bertanggungjawab untuk mempersiapkan ibu sebelum melahirkan.
4.      Cara adaptasi Sibling :
ö        Ajak saudara kandung jenguk ke rumah sakit
ö        Telepon
ö        Waktu pulang ; ayah memegang bayi, ibu memegang peranan dalam siling
ö        Sibling merawat boneka, ibu merawat bayi
ö        Jangan mengurangi waktu
ö        Beri hadiah dari bayi untuk sibling
ö        Anjurkan pengunjung untuk menegur sibling

4.      Perawatan post partum
a.       Perineum
Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptura atau laserasi merupakan daerah yang tidak mudah untuk dijaga agar tetap bersih dan kering. Pengamatan dan perawatan khusus diperlukan untuk menjamin agar daerah tersebut sembuh dengan cepat dan mudah. Pencucian daerah perineum memberikan kesempatan untuk melakukan inspeksi secara seksama pada daerah tersebut dan mengurangi rasa sakitnya.
b.      Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin ibu harus istirahat tidur terlentang selama 8 jam post partum, kemudian boleh miring-miring kekiri dan kekanan untuk mencegah terjadinya trobosis dan tramboemboli. Pada hari kedu duduk-duduk, hari ketiga jalan-jalan dan pada hari keempat atau lima boleh pulang. Mobilisasi diatas mempunyai variasi tergantung pada adanya komplikasi persalinan nifas dan sembuhnya luka-luka.


c.       Diet
Makanan harus bermutu dan bergizi cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan sayuran-sayuran dan buah-buahan.
d.      Miksi
Hendaknya berkemih dapat dilakukan  sendiri dngan secepatnya. Kadang-kadang wanita sulit berkemih karena sphineter uretrae mengalami tekanan oleh kepala janin dan spasme otot iritasi musculus sphicterani selama persalinan bila kandung kemih penuh dan wanita sulit berkemih sebaiknya lakukan kateterisasi.
e.       Defakasi
Buang air besar harus dilakukan 3 – 4 hari post partum. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi optipasi apabila faeces keras harus diberikan obat laksans atau perectal, jika masih belum bisa dilakukan klisma.
f.       Laktasi
Perawatan mammae telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu tidak keras, lemas dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Laktasia dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu (ASI).
Keuntungan ASI yakni :
1)      Bagi ibu
a)      Mudah didapatkan
b)      Praktis dan murah
c)      Memberi kepuasan
2)      Bagi bayi
a)      ASI mengandung zat ASI yang sesuai dengan kebutuhan
b)      ASI mengandung berbagai zat antibody untuk mencegah infeksi
c)      ASI mengandung laktoperin untuk mengikat zat gizi
d)     Susu tepat dan selalu segar
e)      Memperindah gigi dan rahang
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran ASI
1)      Faktor anatomis
Apabila jumlah lobus dalam buah dada berkurang maka produksi ASI akan kurang karena sel-sel ocini yang ngisap zat makanan dari pembuluh darah akan berkurang.
2)      Faktor fisiologis
Bahwa terbentuknya ASI dipengaruhi oleh hormon yaitu hormon proloctin yang merangsang sel-sel ocini untuk membentuk ASI, apabila ada kelainan dari hormon ini maka dengan sendirinya rangsangan pada sel-sel ocini akan berkurang sehingga tidak dapat membentuk ASI.
3)      Makanan yang dimakan ibu yang menyusui
4)      Faktor istirahat
5)      Faktor isapan anak
6)      Faktor obat-obatan dapat mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran ASI karena adanya hormon yang dikandung oleh obat-obatan tersebut mempengaruhi hormon prolaktin yang sangat berperan penting dalam produksi dan peneluaran ASI.
7)      Faktor psikologis
  1. Cuti hamil dan bersalin ; menurut UU bagi wanita pekerja berhak mengambil cuti hamil dan bersalin selama 3 bulan, 1 bulan sebelum bersalin dan 2 bulan setelah bersalin.

  1. Pemeriksaan pasca persalinan
      Pemeriksaan post natal antara lain :
a)      Pemeriksaan umum ; TD, nadi, keluhan dan sebagainya
b)      Keadaan umum ; suhu badan, selera makan dan lain-lain
c)      Payudara ; ASI, putting susu
d)     Dinding perut ; perineum, kandung kemih dan rektum
e)      Sekret yang keluar; lochia, flour albus
f)       Keadaan alat-alat kandungan

  1. Nasehat untuk ibu post partum
a)      Fisioterapi postnatal sangat baik bila diberikan
b)      Sebaiknya bayi disusui
c)      Kerjakan gimnastik setelah bersalin
d)     Untuk kesehatan ibu, bayi dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk menjarangkan anak
e)      Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi.








DAFTAR PUSTAKA


Moctar, Rustam. Sinopsis obstruksi : Obstetri Fisiologis, obstetri patologis,
Edisi 2, Jilid 1. Jakarta. EGC, 1998

Bobak, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4, Jakarta, EGC, 2004

Wikojosostro, Hanifa, Ilmu Kebidanan. Edisi 3, cetakan 3, Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiraharjo, 1994.

Doengus, Merillyn E. Rencana Perawatan Maternal/bayi, Pedoman untuk
Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien, edidi 2, jakarta, EGC, 2001.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar