Kamis, 02 Agustus 2012

ASUHAN KEPERAWATANPADA LANJUT USIA


ASUHAN KEPERAWATAN

PADA LANJUT USIA

Oleh: haeril anwar


 


PENDAHULUAN


Usia lanjut (USILA) merupakan tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia.   Setiap orang yang dikaruniai umur panjang akan mengalami tahapan ini. Dengan berhasilnya pelayanan kesehatan yang ditandai dengan bertambahnya usia harapan hidup maka kesempatan menjadi USILA semakin besar sehingga diperkirakan jumlah USILA semakin bertambah.

Sama seperti tahapan proses perkembangan yang lain, maka pada USILA terjadi perubahan fisik, emosi, kognitif, sosial dan spiritual yang memerlukan penanganan khusus agar USILA tetap adaptif. USILA dapat menjadi usia keemasan yang bahagia jika individu memiliki kesehatan yang baik, ikatan keluarga dan lingkungan sosial yang kuat, kondisi ekonomi yang memadai disertai hubungan interpersonal yang hangat.

Sehubungan dengan masalah tersebut di atas, maka kelompok USILA perlu mendapat perhatian dan pembinaan khusus baik oleh pemerintah atau swasta maupun berbagai disiplin ilmu termasuk keperawatan, agar para usia lanjut dapat mempertahankan kondisi kesehatannya sehingga tetap dapat produktif, berperan aktif di masyarakat dan tetap bahagia di usia lanjut.

Masalah-masalah kesehatan yang sering terjadi pada usia lanjut terkait dengan beberapa aspek antara lain sebagai berikut:
a.       Fungsi fisiologis: masalah pendengaran, penglihatan, pencernaan dan nutrisi, perkemihan, kardiovaskular, pernafasan, mobilitas, dan keamanan.
b.       Rasa nyaman: kulit, tidur dan istirahat, suhu tubuh, fungsi seksual.
c.       Fungsi psikososial
d.       Fungsi kognitif

Pada makalah ini akan diuraikan lebih lanjut tentang asuhan keperawatan pada usia lanjut secara menyeluruh yaitu bio-psiko-sosial-spiritual, karena keempat aspek tersebut saling terkait dan saling menentukan satu sama lain. Oleh karena itu keempat aspek tersebut perlu dipenuhi secara selaras karena kegagalan pada salah satu aspek akan mengganggu sistem manusia secara utuh.


RESPON USIA LANJUT TERHADAP PROSES PENUAAN


Respon usia lanjut terhadap proses penuaan berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan individu tersebut, latar belakang sosial budaya termasuk ekonomi, pendidikan, sosial budaya masyarakat, besarnya dukungan keluarga dan lain sebagainya.

Menurut Erickson (dikutip dari Stuart & Sundeen, 1993) bahwa kesiapan usia lanjut untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang sebelumnya. Apabila seseorang pada tahap tumbuh kembang sebelumnya melakukan kegiatan sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan yang serasi dengan orang-orang di sekitarnya, maka pada usia lanjut dia akan tetap melakukan kegiatan yang biasa dilakukan pada usia mudanya, misalnya olah raga, ikut dalam organisasi sosial kemasyarakatan dan masih dapat mengembangkan hobinya. Dengan demikian ia tidak mudah sakit dan masih bisa menunjukkan integritas diri yang baik.

Sebaliknya, jika seseorang tersebut tidak berhasil dalam tahap tumbuh kembang sebelum lansia dan tidak melakukan hal-hal yang telah disebutkan diatas dan lebih banyak stress dan keyakinan terhadap agama kurang, maka individu tersebut akan cepat mengalami perubahan struktur dan fungsi tubuh yang ditandai dengan sering sakit, lekas pikun, merasa terisolasi, maka proses penuaan ini terjadi lebih cepat.

Usia lanjut akan tetap produktif apabila ia dapat melakukan tugas perkembangannya dengan baik. Tugas perkembangan ini meliputi penyesuaian diri terhadapp ketahanan dan kesehatan fisik yang berkurang, penyesuaian diri terhadap masa pensiun dan berkurangnya pendapatan, penyesuaian diri terhadap kemungkinan ditinggal pasangan hidup karena kematian, membina hubungan dengan teman sebaya dengan berperan serta dalam organisasi sosial kemasyarakatan.

Apabila tugas perkembangan tersebut tidak dapat dilakukan dengan baik oleh usia lanjut, maka mereka akan bisa mengalami berbagai masalah antara lain: kecemasan, sakit-sakitan, merasa kesepian, depresi, penolakan, bermusuhan dengan orang disekitarnya, harga diri rendah, dan bahkan ada yang putus asa sampai bunuh diri, terutama apabila keyakinan agamanya kurang kuat.

Selain USILA sendiri harus mampu melakukan perawatan dirinya sendiri, keluarga dan orang-orang disekitarnya pun perlu memahami bagaimana melakukan asuhan keperawatan yang tepat pada usia lanjut tersebut. Karena hal ini akan membantu USILA untuk lebih bergairah hidup dan melakukan kegiatan dengan penuh semangat dan ia akan tetap produktif dan berbahagia pada usianya yang lanjut.


ASUHAN KEPERAWATAN PADA USIA LANJUT


Asuhan keperawatan usia lanjut bertujuan agar usia lanjut dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, dengan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan sehingga usia lanjut memiliki rasa ketenangan hidup dan tetap produktif sampai akhir hayatnya. Asuhan keperawatan yang dilakukan meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

I.              PENGKAJIAN

Pengkajian yang dilakukan meliputi fisik, psikologis, sosial dan spiritual untuk mendapatkan data dan mengetahui kemampuan dan kekuatan usia lanjut.


a.       Fisik/Biologis

Pengkajian fisik/biologis dilakukan dengan cara wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Riwayat kesehatan usia lanjut dikaji dengan menanyakan tentang:
q  Pandangan usila tentang kesehatannya
q  Kegiatan yang mampu ia lakukan
q  Kekuatan fisik usila: kekuatan otot, sendi, penglihatan, pendengaran
q  Kebiasaan usila merawat diri sendiri
q  Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, buang air besar/kecil
q  Kebiasaan olah raga
q  Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan
q  Kebiasaan usila dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan minum obat
q  Masalah-masalah seksual yang dirasakan

Beberapa masalah keperawatan yang umum ditemukan pada usila:
q  Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
q  Gangguan persepsi berhubungan dengan gangguan pendengaran/penglihatan
q  Kurangnya perawatan diri
q  Kemungkinan cedera fisik: jatuh
q  Perubahan pola eliminasi
q  Gangguan pola tidur
q  Gangguan pola nafas
q  Gangguan mobilisasi: nyeri berhubungan dengan kekakuan sendi, dll

b.      Psikologis

Pemeriksaan psikologis dilakukan saat berkomunikasi dengan usila untuk melihat fungsi kognitif termasuk daya ingat, proses fikir, dan juga perlu dikaji alam perasaan, orientasi terhadap realitas dan kemampuan usila dalam penyelesaian masalahnya. Perubahan yang umum terjadi pada usila adalah daya ingat yang menurun, proses fikir yang menjadi lambat, dan adanya perasaan sedih karena merasa kurang diperhatikan.

Hal yang perlu dikaji:
q  Apakah usila mengenal masalah-masalah utamanya?
q  Apakah usila optimis memandang sesuatu?
q  Bagaimana sikap dan penerimaan terhadap proses penuaan?
q  Apakah usila merasa dirinya dibutuhkan atau tidak?
q  Bagaimana usila tersebut mengatasi masalah atau stress?
q  Apakah usila tersebut mudah untuk menyesuaikan diri?
q  Apakah usila tersebut sering mengalami kegagalan?
q  Apakah harapan usila tersebut di masa sekarang dan masa yang akan datang?

c.       Sosial-ekonomi

Penilaian sosial dilihat dari bagaimana usila tersebut  membina keakraban dengan teman sebaya ataupun dengan lingkungannya dan bagaimana keterlibatan usila dalam organisasi sosial. Status ekonomi juga mempengaruhi yaitu yang terkait dengan penghasilan yang mereka peroleh. Usila yang mempunyai penghasilan tentu merasa dirinya berharga karena masih mampu menghasilkan sesuatu untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Hal-hal yang perlu dikaji antara lain:
q  Apa saja kesibukan usila dalam mengisi waktu luang?
q  Apa saja sumber keuangan usila tersebut?
q  Dengan siapa usila tersebut tinggal?
q  Kegiatan organisasi sosial apa yang diikuti oleh usila tersebut?
q  Bagaimana pandangan usila terhadap lingkungannya?
q  Berapa sering usila tersebut berhubungan dengan orang lain di luar rumah?
q  Siapa yang biasa mengunjungi usila?
q  Seberapa besar ketergantungan usila?
q  Apakah usila dapat menyalurkan hobi atau keinginannya dengan fasilitas yang ada?

Beberapa masalah keperawatan yang sering terjadi pada area psiko-sosial adalah:
q  Menarik diri b.d  perasaan tidak mampu
q  Isolasi sosial b.d perasaan curiga
q  Depresi b.d isolasi sosial
q  Harga diri rendah b.d perasaan ditolak
q  Koping yang tidak adekuat b.d ketidakmampuan mengungkapkan perasaan secara tepat
q  Cemas b.d sumber keuangan yang terbatas
q  dll

d.      Spiritual

Penilaian spiritual berkait dengan keyakinan agama yang dimiliki usila dan sejauh mana keyakinan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Usila yang dapat menjalankan ibadahnya dengan baik, keyakinan tersebut benar-benar diresapi dalam kehidupan sehari-hari dan ia akan lebih mudah menyesuaikan diri terhadap proses penuaan.

Hal yang perlu dikaji antara lain:
q  Apakah usila secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya?
q  Apakah usila secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan?
q  Bagaimana usila selalu berusaha menyelesaikan masalah?
q  Apakah usila terlihat sabar dan tawakkal?

Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada area ini antara lain:
q  Reaksi berkabung atau berduka b.d ditinggal pasangan
q  Penolakan terhadap proses penuaan b.d ketidaksiapan menghadapi kematian
q  Marah terhadap Tuhan b.d kegagalan yang dialami
q  Perasaan tidak tenang b.d ketidakmampuan melakukan ibadah secara tepat




II.            PERENCANAAN

Perencanaan dibuat berdasarkan permasalahan yang dialami oleh usila dengan tujuan agar usila, keluarga, dan petugas kesehatan terutama perawat, baik yang melakukan perawatan di rumah maupun di panti, dapat membantu usila dan usila sendiri dapat berfungsi seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik, psikologis, dan sosial dengan tidak bergantung pada orang lain.

Tujuan dari perencanaan tindakan keperawatan pada usila diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar antara lain:
a.       Pemenuhan kebutuhan nutrisi
b.       Meningkatkan keamanan dan keselamatan
c.       Memelihara kebersihan diri
d.       Memelihara keseimbangan tidur dan istirahat
e.       Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi yang efektif

a.       Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi

Peran gizi pada usia lanjut adalah untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran dan memperlambat timbulnya penyakit degeneratif seperti osteoporosis dan penyakti yang umum terjadi pada usia lanjut, sehingga usila dapat mencapai hari tua yang sehat dan tetap aktif.
Gangguan nutrisi yang bisa terjadi pada usila dapat disebabkan oleh faktor fisik, psikologik dan sosial. Penurunan alat penciuman dan pengecapan, pengunyahan kurang sempurna dan kurang nyaman saat makan karena gigi geligi kurang lengkap atau buruk, rasa penuh diperut dan sukar buang air besar karena melemahnya otot lambung dan usus akan menyebabkan nafsu makan usia lanjut berkurang.
Perubahan peran dan situasi pada usia lanjut dapat menyebabkan timbulnya kecemasan dan putus asa yang dapat menyebabkan usia lanjut menolak makan atau makan secara berlebihan.
Masalah gizi yang sering timbul pada usia lanjut adalah kelebihan gizi (obesitas, malnutrisi), kekurangan gizi (anoreksia, penurunan BB), kekurangan vitamin, dan kelebihan vitamin.

b.      Meningkatkan keamanan dan keselamatan

Kecelakaan sering terjadi pada usila antara lain jatuh, kecelakaan lalu lintas, dan kebakaran. Hal ini berkaitan dengan proses penuaan di mana fleksibilitas dari kaku mulai berkurang, ditandai dengan timbulnya masalah mobilisasi akibat nyeri pada sendi-sendi. Situasi tersebut menyebabkan usila tidak mampu menyanggah tubuhnya dengan baik. Disamping itu, penurunan kondisi fisik seperti penglihatan dan pendengaran membuat usia lanjut kurang bisa mengamati situasi sekitarnya sehingga mereka rentan terhadap kecelakaan.

c.       Memelihara Kebersihan Diri

Akibat dari proses penuaan, sebagian usila mengalami kemunduran ataupun motivasi untuk melakukan perawatan diri secara teratur. Bisa juga kurangnya perawatan diri ini disebabkan karna penurunan daya ingat pada usia lanjut sehingga tidak dapat melakukan kegiatan kebersihan diri secara teratur. Hal ini juga berkaitan dengan kebiasaan usila pada usia muda. Jika pada usia muda mereka orang yang rapi dan bersih, maka biasanya mereka akan tetap melakukan aktifitas perawatan diri dengan baik (jika tidak ada batasan fisik).

d.      Memelihara Keseimbangan Tidur dan Istirahat

Pada umumnya usila mengalami gangguan tidur karena proses penuaan. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
q  Menyediakan atau memberikan waktu/tempat tidur yang nyaman
q  Mengatur lingkungan yang kondusif (ventilasi, suara)
q  Melatih lansia untuk melakukan latihan fisik ringan untuk melancarkan sirkulasi darah dan melenturkan otot-otot
q  Memberikan minuman hangat sebelum tidur

e.       Meningkatkan Hubungan Interpersonal Melalui Komunikasi

Masalah yang umum ditemukan pada usia lanjut yaitu penurunan daya ingat, pikun, depresi, lekas marah, mudah tersinggung, dan curiga. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi fisik pada usia lanjut dan juga karena hubungan interpersonal yang tidak adekuat.
Upaya yang bisa dilakukan antara lain:
q  Berkomunikasi dengan usila dengan mempertahankan kontak mata
q  Memberikan stimulus atau mengingatkan usila terhadap kegiatan yang dilakukan
q  Menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan usila
q  Memberikan kesempatan pada usila untuk mengekspresikan perasaan dan tanggap terhadap respon verbal dan non verbal usila
q  Melibatkan usila dalam keperluan tertentu sesuai dengan kemampuannya
q  Menghargai pendapat usila


III.          IMPLEMENTASI

Semua tindakan yang telah direncanakan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan usila dan situasi dan kondisinya. Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam mengimplementasikan perencanaan, antara lain:
q  Berbicara dengan lembut dan sopan
q  Memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dilakukan berulang kali jika perlu dengan gambar
q  Memberikan kesempatan pada usila untuk bertanya


IV.          EVALUASI

Setiap tindakan yang telah dilakukan perlu dievaluasi baik dari verbal maupun non verbal untuk mengetahui sejauh mana usila atau keluarga mampu melakukan apa yang telah dianjurkan, sehingga perawat dapat melihat keberhasilan dan merencanakan tindakan selanjutnya.





KESIMPULAN

Kemajuan IPTEK secara umum dan di bidang kesehatan khususnya telah mampu meningkatkan taraf hidup dan memperbaiki tingkat kesehatan manusia. Hal ini mengakibatkan usia harapan hidup menjadi lebih panjang sehingga populasi kelompok usia lanjut meningkat.

Dengan demikian perhatian dan penanganan terhadap masalah usia lanjut perlu ditingkatkan. Perawat yang professional harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai usia lanjut dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik. Perawat merupakan tenaga kesehatan yang memiliki potensi untuk bisa meningkatkan status kesehatan kelompok usia lanjut sehingga mereka dapat tetap hidup produktif serta tetap bahagia di hari tuanya.

Selain itu keluarga juga merupakan sumber yang berpotensi dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatan usila sebagai sistem pendukung terdekat bagi usia lanjut. Perawat komunitas yang bertugas di keluarga dapat mengoptimalkan fungsi keluarga dalam rangka merawat dan meningkatkan sistem kesehatan usia lanjut sehingga tujuan dari keperawatan komunitas dapat terlaksana dengan baik.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar