Rabu, 01 Agustus 2012

STROKE HEMORAGIK


STROKE HEMORAGIK

A. KONSEP MEDIS
1.  Pengertian
            Stroke atau cedera serebrovaskuler (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak
Definisi WHO : Stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik local maupun menyeluruh  (global), yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler
2.   Etiologi
a. Thrombosis serebral
     Arteriosklerosis serebral dan pelambatan sirkulasi serebral adalah penyebab utama trombosis serebral yang penyebab paling umum dari stroke.
Tanda-tanda thrombosis serebral bervariasi, sakit kepala dalah awitan yang tidak umum. Secara umum thrombosis serebral tidak terjadi dengan tiba-tiba dan kehilangan bicara sementara, hemiplegia atau parasthesia pada setengah tubuh dapat mendahului awitan paralysis berat pada beberapa jam atau hari
b. Embolisme serebral
Abnormalitas patologik pada jantung kiri, seperti endokarditis inefektif. Penyakit jantung rheumatic dan infark miokard, serta infeksi pulmonal adalah tempat-tempat di asal emboli.
Embolus biasanya menyumbat arteri serebral tengah atau cabang – cabangnya, yang merusak sirkulasi serebral.
            Awitan hemiparesis atau hemiplegia tiba-tiba dengan atau tanpa afasia atau kehilangan kesadaran pada pasien dengan penyakit jantung atau pulmonal adalah karakteristik dari embolisme.
c. Iskemia Serebral
            Iskemia serebral (insufisiensi suplai darah ke otak) terutama karena konstriksi ateroma pada arteri yang menyuplai darah ke otak. Manifestasi yang paling umum adalah SIS (Serangan Iskemik Sementara)

d. Hemoragi Serebral
    Hemoragi dapat terjadi diluar duramater (hemoragi ekstradural) atau epidural di bawah duramater (hemoragi subdural), di ruang sub arakhnoid (hemoragi sub arachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral)
  1. Hemoragi Ekstradural
Hemoragi ekstradural biasanya diikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri tengah atau arteri meninges lain. Pasien harus diatasi dalam beberapa jam cedera untuk mempertahankan hidup
  1. Hemoragi subdural
Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama dngan hemoragi epidural, kecuali bahwa hematom subdural biasanya jembatan vena robek. Karenya, periode pembentukan hematoma lebih lama (interval jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak.
  1. Hemoragi Subarachnoid
Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi, tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisme pada area Sirkulus Willisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak
  1. Hemoragi Intraserebral
Hemoragi atau perdarahan di substansi dalam otak paling umum pada pasien dengan hipertensi dan atherosclerosis serebral, karena perubahan  degeneratif, karena penyakit ini biasanya pada usia 40 s/d 70 tahun. Pada orang  yang lebih muda dari 40 tahun. Hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri – vena , hemongioblastoma dan trauma, juga disebabkan oleh type patologi arteri tertentu, adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (anti koagulan oral,  amfetamin dan berbagai obat adiktif)
3.  Manifestasi Klinik
  1. Kontra lateral paralysis atau paresis
  2. Kehilangan penginderaan kontra lateral
  3. Kehilangan  penginderaan sensori dan motorik yang nampak sekali pada muka, leher dan ekstremitas atas
  4. Disphasia atau aphasia, timbul  bila hemiparese dominant yang terkena (hemifere kiri pada orang yang bertangan kanan dan pada umumnya orang-orang yang bertangan kiri)
  5. Masalah spatial perceptual, perubahan dalam perhitungan dan perilaku, mengabaikan sebelah tubuh yang paralysis dan tidak mampu memperhatikan ekstremitas yang paralysis bahwa itu terjadi pada dirinya (anasagnosia), bila non dominant hemisphere yang terkena
  6. Kontra lateral hemonymouse hemianopsia
-          Aphasia serebri :          tidak mampu menyusun kata-kata yang diucapkan (aphasia receptive)
-          Motor aphasia :           ketidakmampuan menggunakan symbol berbicara (disebut juga aphasia ekspresif)
-          Global aphasia :           tidak mampu mengambil pengertian dari apa yang dikatakan demikian juga berbicara

4.   Faktor Resiko pada Stroke:
a.       Hipertensi, merupakan factor resiko utama
b.      Penyakit kardiovaskuler, yakni embolisme serebral dari jantung
-          Penyakit arteri koronaria
-          Gagal jantung kongestif
-          Hipertrofi ventrikel kiri
-          Abnormalitas irama (khususnya fibrilasi atrium)
-          Penyakit jantung kongestif
c.       Kolesterol tinggi
d.      Obesitas
e.       Peningkatan hematokrit meningkatkan resiko infark serebral
f.       Diabetes, dikaitkan dengan aterogenesis terakselerasi
g.      Kontrasepsi oral ( khususnya dengan disertai hipertensi, merokok, dan kadar estrogen tinggi )
h.      Merokok
i.        Penyalahgunaan obat (khususnya kokain)
j.        Konsumsi alcohol
5.   Pembagian Klinis
            Dari segi klinis, Stroke dibagi atas :
-          Serangan iskemia Sepintas (Transient Ischemic Attack/TIA)
-          Stroke Iskemik atau Non Stroke Hemoragik (NHS)
-          Stroke Hemoragik (HS)
STROKE HEMORAGIK (HS)
            Menurut WHO dalam International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problem 10th Revision, Stroke Hemoragik dibagi atas:
a.       Perdarahan Intraserebral (PIS)
b.      Perdarahan Subarakhnoidal (PSA)
1. Perdarahan Intraserebral (PIS)
a. Definisi :
            PIS adalah perdarahan primer berasal dari pembuluh darah parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma
b. Pembagian Klinis :
         Luyendyk dan Schoen membagi PIS menurut cepatnya gejala klinis memburuk, sbb:
  1. Akut, dan cepat memburuk dalam 24 jam
  2. Sub akut, dengan krisis terjadi antara 3 dan 7 hari
  3. Subkronis, bila krisisnya  7 hari
c. Epidemiologi
            Usia, rata-rata pada umur 55 tahun, interval 40 – 75 tahun / jenis kelamin, insidens pada lelaki sama dengan pada wanita.
            Angka kematian 60 -90 %. Dari seluruh yang meninggal, 10 % meninmggal setelah 3 hari, dan 72 % setelah seminggu.
d.  Etiologi
               Terbanyak disebabkan karena hipertensi. Faktor etiologi yang lain adalah aneurisma kriptogenik, diskrasia darah, penyakit  darah seperti hemofilia, leukemia, trombositopenia, pemakaian antikoagulan dalam jangka lama, malformasio arteriovenosa dan malformasi mikro angiomatosa dalam otak, tumor otak (primer dan metastasia) yang tumbuh cepat, amiloidosis serebrovaskular, dan yang jarang : pada eklampsia, terapi elektrosyok dan sebagainya.
e. Patologi dan patofisiologi
         70 % kasus PIS terjadi di kapsula interna, 20 % di fosa posterior (batang otak dan serebellum), dan 10 % di hemisfer (di luar kapsula interna)
            Gambaran patologik menunjukkan ekstravasasi darah karena robeknya pembuluh darah otak diikuti pe,mbentukan udema dalam jaringan otak di sekitar hematoma. Akibatnya terjadi diskontinuitas jaringan dan kompresi oleh hematoma dan edema pada struktur sekityar termasuk pembuluh darah otak dan menyempitkan /menyumbatnya, sehingga terjadi pula iskemik pada jaringan yang dilayaninya.
               Maka gejala klinis yang timbul bersumber dari destruksi jaringan otak, kompresi pembuluh darh otak / iskemik, dan akibat kompresi pada jaringan otak lainnya.
f. Gejala – Gejala Klinis
  1. Gejala prodromal tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi
  2. Serangan : seringkali di siang hari, waktu bergiat atau emosi / marah
  3. Sifat nyeri kepala : nyeri yang hebat sekali
  4. Mual muntah sering terdapat pada permulaan serangan
  5. Kesadaran, biasanya menurun dan cepat masuk koma (65 % terjadi kurang dari setengah jam, 23 % antara ½ -2 jam, dan 12 % terjadi setelah 2 jam, sampai 19 hari )
g. Terapi
  1. Pengobatan Umum
-          Napas, jalan napas harus bebas untuk menjamin keperluan oksigen
-          Darah dijaga agar tekanan darah tetap cukup (tinggi ) untuk mengalirkan darah (perfusi ) ke otak dan menjaga komposisi darah (O, Hb, glukosa ) tetap optimal untuk metabolisme otak
-          Otak, mencegah terjadinya udema otak dan timbulnya kejang dengan kortikosteroid, gliserol, atau manitol untuk udema, dan valium I.V. pelan –pelan terhadap kejang-kejang
-          Ginjal, saluran kemih, dan balans cairan diperhatikan]
-          Gastrointestinum, fungsi defekasi / pencernaan dan nutrisi jaringan abaikan
  1. Pengobatan Spesifik
a.             Pengobatan ialah pengobatan kausal. Pengobatan terhadap perdarahan di otak dengan tujuan hemostatis, misalnya asam traneksamat 1 gram / 4 jam iv, pelan-pelan selama 3 minggu dan dosis berangsur – angsur diturunkan
b.             Operasi : bila lokasi perdarahan superficial
2. Perdarahan Subarachnoidal (PSA)
a. Definisi
PSA adalah keadaan terdapatnya / masuknya darah ke dalam ruangan subarakhnoid
b. Pembagian:
  1. PSA spontan primer, yakni PSA yang bukan akibat trauma atau PIS
  2. PSA sekunder, adalah perdarahan yang berasal di luar subarakhnoid, umpamanya dari PIS atau dari tumor otak
c. Etiologi :
  1. Karena aneurisma pecah (50%)
  2. Pecahnya MAV ( Malformasi Arteriovenosa) = 5%
  3. Asalnya  primer dari PIS (20%), dan
  4. 25% kausanya tak diketahui
d.  Epidemiologi
-          PSA menduduki 7 – 15 % dari seluruh kasus Stroke
-          Usia : insidensnya, 62 % PSA timbul pertama kali pada 40 – 60 tahun
-          Pada kasus MAV,  laki – laki lebih banyak dari wanita
e. Gejala dan tanda klinis :
-          gejala prodromal : nyeri kepala hebat dan per akut, hanya 10 %
-          kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi dari tak sadar sebentar, sedikit delier sampai koma
-          gejala / tanda rangsangan meningeal : kaku kuduk, tanda Kernig ada
-          fundus okuli : 10 % penderita mengalami edema-papil beberapa jam setelah perdarahan. Sering terdapat perdarahan subhialoid karena pecahnya aneurisma pada a. komunikans anterior atau a. karotis interna
-          gejala-gejala neurologik fokal :  bergantung pada lokasi lesi
-          gangguan fungsi saraf otonom:
      Demam setelah 24 jam, demam ringan karena rangsangan meningen, dan demam tinggi, muntah, berkeringat, menggigil dan takikardi bila dirangsang hipotalamus.
      Bila berat, maka terjadi ulkus peptikum disertai hematemesis dan melena (stress ulcer), dan seringkali disertai peninggian kadar gula darah, glukosuria, albuminuria, dan perubahan pada EKG.

e. Terapi:
1.             Terapi fase akut = PIS
2.             Pasca akut  dianjurkan angiografi untukl mencari lesi (aneurisma atau angioma, MAV) sumber PSA. Jika ditemukan maka bisa dilakukan operasi bedah saraf (kliping, ligasi, dsb)
3.             Pengobatan Nimodipin (Pasca Akut) untuk cegah spasme

6.  Penatalaksanaan
Tindakan medis terhadap pasien stroke meliputi diuretic untuk menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral. Antikoagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya thrombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam system kardiovaskuler. Medikasi anti thrombosit dapat diresepkan karena thrombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.
7. Komplikasi
  1. Hipoksia serebral
  2. Penurunan aliran darah serebral
  3. Embolisme serebral

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2000, Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3, Edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Doengoes Marilyn, 1999, Rencana asuhan Keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Harsono,dr., 1996, Kapita Selekta Neurologi, Edisi 2, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Price SA., Wilson L.M.,  1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit, Buku I, Edisi 4, Penerbit Buku Kedokteran EGC,  Jakarta
Indonesia, DepKes, Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, 1995, Asuhan keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan, Departemen Kesehatan, Jakarta

B.  KONSEP KEPERAWATAN
 1. Pengkajian pasien
Data yang dikumpulkan akan bergantung pada letak, keparahan, dan durasi patologi:
AKTIVITAS / ISTIRAHAT
Gejala :  Merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas karena kelemahan,   kehilangan sensasi atau paralysis (hemiplegia)
                          Merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat (nyeri / kejang otot)
Tanda :       Gangguan tonus otot (flaksid, spastis); paralitik (hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum
                      Gangguan penglihatan
                         Gangguan tingkat kesadaran
SIRKULASI          
Gejala:        Adanya penyakit jantung (MI, rheumatic/penyakit jantung vaskuler, GJK, endokarditis bacterial), polisitemia, riwayat hipertensi postural
Tanda:        Hipertensi arterial (dapat ditemukan/ terjadi pada stroke) sehubungan dengan adanya embolisme/ malformasi vaskuler
                   Nadi : Frekuensi dapat bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung / kondisi jantung, obat-obatan, efek stroke pada pusat vasomotor)
                   Disritmia, perubahan EKG
                   Desiran pada karotis, femoralis dan arteri iliaka / aorta yang abnormal
INTEGRITAS EGO
Gejala:        Perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa
Tanda:        Emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih dan gembira
ELIMINASI
Gejala:        Perubahan pola berkemih, seperti inkontinensia urine, anuria
                         Distensi abdomen (distensi kandung kemih berlebihan), bising usus negatif (ileus paralitik)
MAKANAN / CAIRAN
Gejala:        Nafsu makan hilang
                         Mual muntah selama fase akut (peningkatan TIK)
                         Kehilangan sensasi (rasa kecap ) pada lidah, pipi dan tenggorok, disfagia
                         Adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah
Tanda :       Kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan faringeal). Obesitas (faktor resiko)
NEUROSENSORI
Gejala :      Sinkope/pusing (sebelum serangan CSV / selama TIA)
Sakit kepala ; akan sangat berat dengan adanya perdarahan intraserebral atau subarakhnoid
                   Kelemahan / kesemutan / kebas
Penglihatan menurun, seperti buta total, diplopia, kehilangan daya lihat sebagian
Sentuhan : hilangnya rangsang sensorik kontralateral (pada sisi tubuh yang berlawanan) pada ekstremitas dan kadang-kadang ipsilateral (yang satu sisi) pada wajah
                  Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Tanda:        Status mental / tingkat kesadaran : biasanya terjadi koma pada tahap awal hemoragis; gangguan tingkah laku (letargi, apatis, menyerang); gangguan fungsi kognitif (penurunan memori, pemecahan masalah).
                   Ekstremitas: kelemahan, paralysis, genggaman tidak sama, refleks tendon melemah secara kontralateral
                   Pada wajah terjadi paralysis ata parese (ipsilateral)
                   Afasia : gangguan atau kehilangan fungsi bahasa mungkin afasia motorik, reseptif (afasia sensorik)
                   Kehilangan kemampuan untuk mengenali / menghayati masuknya rangsang visual, pendengaran, taktil, gannguan persepsi
                   Ukuran / reaksi pupil tidak sama, dilatasi atau miosis pupil ipsilateral
                   Kekakuan nukal (karena perdarahan), kejang (karena adanya pencetus perdarahan
NYERI / KENYAMANAN
Gejala :     Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda (karena arteri karotis terkena)
Tanda :      Tingkah  laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot / fasia
PERNAPASAN
Gejala :      Merokok (factor resiko)
Tanda :       Ketidakmampuan menelan / batuk/ hambatan jalan napas
                   Timbulnya pernapasan sulit / tak teratur
                   Suara napas terdengar / ronkhi (aspirasi sekresi)
KEAMANAN
Tanda :       Motorik / sensorik : masalah dengan penglihatan
Perubahan persepsi terhadap orientasi tempat tubuh (stroke kanan). Kesulitan untuk melihat obyek dari sisi kiri (pada stroke kanan). Hilang kewaspadaan  terhadapa bagian tubuh yang sakit
Tidak mampu mengenali obyek, warna, kata dan wajah yang pernah dikenalnya dengan baik
Gangguan berespons terhadap panas dan dingin / gangguan regulasi suhu tubuh (mandiri)
Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, tidak sabar / kurang kesadaran diri (stroke kanan)
INTERAKSI SOSIAL
Tanda :      Masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi
PENYULUHAN / PEMBELAJARAN
Gejala :    Adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke, pemakaian kontrasepsi oral, kecanduan alcohol
Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 7,3 hari

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Angiografi Serebral  :  Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik, seperti perdarahan atau obstruksi arteri, adanya titik oklusi atau rupture
Scan CT : Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infark
Pungsi Lumbal : Menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis, emboli serebral dan TIA. Tekanan meningkat dan cairan yang mengadung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid dan perdartahan intra cranial
MRI : Menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoraghik, malformasi arteriovena (MVA)
Ultrasonografi Doppler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah system arteri karotis, arteriosklerotik)
EEG : Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik
Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal darah yang berlawanan dari massa yang meluas; kalsifikasi karotis interna terdapat pada trombosis serebral ; kalsifikasi parsial dinding aneurisma pada perdarahan subarakhnoid


2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbul :
1.      Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah: gangguan oklusif, hemoragi
2.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan neuromuscular: kelemahan, parastesia; flaksid / paralysis hipotonik (awal) ; paralysis spastis
3.      Kerusakan komunikasi verbal dan nonverbal berhubungan dengankerusakan sirkulasi serebral; kerusakan neuromuscular, kehilangan tonus / kontrol otot fasial / oral; kelemahan / kelelahan umum
4.      Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi sensori, transmisi, integrasi (trauma neurologist atau deficit), stress psikologis.
5.      Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuscular, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan control / koordinasi otot
6.      Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik, psikososial, perceptual kognitif
7.      Resiko tinggi terhadap kerusakan menelan berhubungan dengan kerusakan neuromuscular/ perceptual
8.      Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat
3.   Intervensi Keperawatan
I.              Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah: gangguan oklusif, hemoragi
Tujuan : Meningkatkan perfusi dan oksigenasi serebral yang adekuat
      Intervensi:
-          Tentukan faktor –faktor yang berhubungan dengan keadaan / penyebab khusus selama koma / penurunana perfusi serebral dan potensial terjadinya peningkatan TIK
R/ : Mempengaruhi penetapan intervensi
-          Pantau / catat status neurologist sesering mungkin dan bandingkan dengan keadaan normalnya /  standar
R/ : Mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan mengetahui lokasi, luas dan kemajuan / resolusi peningkatan kerusakan SSP
-          Pantau tanda – tanda vital
R/ ; Variasi mungkin terjadi karena tekanan/ trauma serebral pada daerah vasomotor otak
-          Evaluasi pupil, catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksinya terhadap cahaya
R/ : Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (III) dan berguna  dalam menentukan apakah batang otak tersebut masih baik
-          Pertahankan  keadaan tirah baring; ciptakan lingkungan yang tenang; batasi pengunjung / aktivitas pasien sesuai indikasi
R/ : Aktivitas / stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan TIK
-          Berikan oksigen sesuai indikasi
R/ : Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi  serebral dan tekanan meningkat / terbentuknya edema

II.           Gangguan mobilitas fisik behubungan dengan keterlibatan neuromuscular; kelemahan, parestesia; flaksid / paralysis hipotonik (awal); paralysis  spastis
Tujuan : mempertahankan / meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena atau kompensasi
Intervensi :
-          Kaji kemampuan secara fungsional / luasnya kerusakan awal dan dengan cara yang teratur.
R/ : Mengidentifikasi kekuatan / kelemahan dan dapat memberikan informasi mengenai pemulihan
-          Ubah posisi minimal setiap 2 jam
R/ : Menurunkan resiko terjadinya trauma / iskemia jaringan
-          Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas saat masuk
R/ : Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, membantu mencegah kontraktur
-          Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, dan ambulasi pasien
R/ : Program yang khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti / menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan

III.        Kerusakan Komunikasi verbal dan / atau nonverbal berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral; kerusakan neuromuscular, kehilangan tonus/ kontrol otot fasial/ oral; kelemahan / kelelahan umum
Tujuan : mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi
Intervensi :
-          Kaji tipe / derajat disfungsi, seperti pasien tidak tampak memahami kata atau mengalami kesulitan berbicara atau membuat pengertian sendiri
R/ : Membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan serebral yang terjadi dan kesulitan pasien dalam beberapa atau seluruh tahap proses komunikasi
-          Mintalah pasien untuk mengikuti perintah sederhana (seperti “ buka mata”, “ tunjuk ke pintu”) ulangi dengan kata / kalimat sederhana
R/ : Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik (afasia sensorik)
-          Berikan metode komunikasi alternative, seperti menulis di papan tulis, gambar
R/ : Memberikan komunikasi tentang kebutuhan berdasarkan keadaan / deficit yang mendasarinya
-          Konsultasikan dengan / rujuk kepada ahli terapi wicara
R/ : Pengkajian secara individual kemampuan bicara dan sensori, motorik dan kognitif berfungsi untuk mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan terapi


IV.        Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi sensori, transmisi, integrasi (trauma neurologist atau deficit), stress psikologis.
Tujuan : Mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi perceptual
Intervensi :
-          LIhat kembali prosedur patologis kondisi individual
R/ : Kesadaran akan tipe/ daerah yang terkena membantu dalam mengkaji deficit spesifik dan perawatan
-          Evaluasi adanya gangguan penglihatan
R/ : Munculnya gangguan penglihatan dapat berdampak negative terhadap kemampuan pasien untuk menerima lingkungan dan mempelajari kembali keterampilan motorik dan meningkatkan resiko terjadinya cedera
-          Ciptakan lingkungan yang sederhana, pindahkan perabot yang membahayakan
R/ : membatasi jumlah stimulasi penglihatan yang mungkin dapat menimbulkan kebingungan terhadap interpretasi lingkungan, munurunkan resiko terjadinya kecelakaan
-          Hilangkan kebisingan / stimulasi eksternal yang berlebihan sesuai kebutuhan
R/ menurunkan ansietas dan respon emosi yang berlebihan / kebingungan yang berhubungan dengan sensori berlebihan

V.           Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, nyeri/ ketidaknyamanan
Tujuan : Melakukan aktivitas perawatan diri dengan tingkat kemampuan sendiri
Intervensi :
-          Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan untuk melakukan kebutuhan sehari-hari
R/ : membantu dalam mengantisipasi pemenuhan kebutuhan secara individual
-          Berikan umpan bali yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan
R/ : meningkatkan perasaan makna diri
-          Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal tersebut
R/ : mengkaji perkembangan program latihan dan membantu dalam pencegahan konstipasi dan sembelit
-          Kolaborasi pemberian obat suppositoria dan pelunak feses
R/: Mungkin dibutuhkan pada awal untuk membantu menciptakan / merangsang fungsi defekasi teratur

VI.        Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik, psikososial
Tujuan : Mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi
Intervensi :
-          Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat ketidakmampuannya
R/: penentuan factor –faktor secara individu membantu dalam mengembangkan perencanaan asuhan/pilihan intervensi
-          Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan dan peasaan marah
R/: mendemonstrasikan penerimaan / menbantu pasien untuk mengenal dan mulai memahami perasaan
-          Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik
R/: Membantu peningkatan harga diri dan control atas salah satu bagian kehidupan



VII.   Resiko tinggi terhadap gangguan menelan
Tujuan :Mermpertahankan berat badan yang tepat
Intervensi :
-          Tinjau ulang kemampuan menelan pasien secara individual
R/ : Intervensi nutrisi / pilihan rute makan ditentukan oleh factor-faktor tersebut
-          Mulai untuk memberikan makanan per oral setengah cair, makanan lunak ketika pasien dapat menelan air
R/: Makanan lunak / cairan kental lebih mudah untuk mengendalikan ke dalam mulut, menurunkan resiko terjadina aspirasi
-          Pertahankan masukan dan haluaran dengan akurat, catat jumlah kalori yang masuk
R/: jika usaha menelan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan cairan dan makanan harus dicarikan metode alternative untuk makan
-          Kolaborasi pemberian cairan melalui IV  atau makanan melalui selang
R/: mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika pasien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu dalam mulut

VII.     Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat
Tujuan : mengungkapkan pemahaman tentang kondisi / prognosis dan aturan terapeutik
Intervensi:
-          Evaluasi tipe / derajat dari gangguan persepsi sensori
R/: Defisit mempengaruhi pilihan metode pengajaran dan isi / kompleksitas instruksi
-          Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
R/ : Berbagai tingkat bantuan mungkin diperlukan / perlu direncanakan berdasarkan pada kebutuhan secara individual
-          Identifikasi faktor-faktor resiko secara individual
R/: meningkatkan kesehatan secara umum dan mungkin menurunkan resiko kambuh
-          Tinjau ulang / pertegas kembali pengobatan yang diberikan
R/ : aktivitas yang dianjurkan , pembatasan dan kebutuhan obat/ terapi dibuat pada dasar pendekatan interdisiplin terkoordinasi












ATOFISIOLOGI DAN PENYIMPANGAN KDM


Hipertensi, aneurisma serebral, penyakit jantung, perdarahan serebral, DM, usila, rokok, alkoholik, peningkatan kolesterol, obesitas


 



Thrombus, Emboli, Perdarahan serebral


 

Gangguan aliran darah ke otak                   Pecahnya pembuluh darah otak
 

    Kerusakan neuromotorik            Perdarahan Intra Kranial         Penurunan kesadaran










 
Transmisi impuls UMN              Darah merembes ke dalam     Kehilangan komunikasi
    ke LMN   terganggu                        parenkim otak






 


Kelemahan otot progresif       Penekanan pada jaringan otak







 
        Mobilitas terganggu
                                                Peningkatan Tekanan Intra Kranial
 

    
                                                Gangguan perfusi jaringan otak

Gangguan
Mobilitas
Fisik                                              Pasien bedrest



                                                Penekanan lama pada daerah
                 ADL                            punggung dan bokong
               Dibantu

                                                Suplai nutrisi dan O₂ ke daerah
                                                        tertekan berkurang
   Defisit perawatan diri

                                                Resiko Gangguan Integritas Kulit


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar